Kamis, 15 Januari 2015

Kiras Bangun, Pahlawan Kebanggaan Tanah Karo

Jakarta (7/11/2014) – Bhineka Tunggal Ika, merupakan semboyan yang kuat untuk menyatukan keberagaman suku dan budaya di Indonesia. Semboyan yang bersifat plural ini ternyata sudah lebih dulu diterapkan oleh Kiras Bangun. Seorang tokoh yang berasal dari Tanah Karo, tepatnya di daerah Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tokoh kelahiran 1852 ini menggalang kekuatan lintas agama dan lintas suku di Sumatera Utara dan Aceh, untuk melawan penjajahan Belanda. 

Dalam melakukan perjuangan melawan Belanda, Kiras  Bangun melakukan kerjasama lintas etnis dan agama yang menghasilkan kurang lebih 3000 pasukan. Pasukannya terkenal dengan sebutan Pasukan Urung (Desa), disebut demikian karena pasukannya terdiri dari orang-orang  kampung di Tanah Karo dan Aceh. Pasukan Urung beberapa kali terlibat pertempuran dengan Belanda di Tanah Karo. Kiras Bangun yang memiliki nama lain Garamata (mata merah) berasal dari keluarga yang menguasai adat Karo di Batukarang.  Kiras Bangun memiliki empat saudara kandung, seorang perempuan dan tiga orang laki-laki. 

Pada masa mudanya Kiras Bangun disekolahkan di Binjai dan menguasai bahasa Melayu serta aksara Karo. Sejak berusia muda, Kiras Bangun dikenal sebagai tokoh muda bijak dalam melakukan pembelaan terhadap hak-hak rakyat yang ingin dirampas oleh Belanda. Dalam perjalanan hidupnya, Kiras Bangun menyandang banyak jabatan yaitu Sesepuh Adat Karo, Ketua Urung (desa) Lima Senina, Penghulu Lima Senina Batu Karang, Juru Damai Perang Antar Desa dan Pemimpin Urung Tanah Karo. 

Perjuangan Kiras Bangun dimulai sejak tahun 1870 saat Belanda menduduki Sumatera Bagian Timur, tepatnya di Langkat dan sekitar Binjai. Saat itu Belanda membuka perkebunan tembakau dan karet di daerah tersebut. Pada tahun 1901, timbul niat Belanda untuk memperluas wilayah perkebunan mereka ke Tanah Karo.   Belanda yang telah mengetahui kharismatik dan kepopuleran Kiras Bangun, mencoba menjalin diplomasi dengan mengirimkan utusan dan menawarkan imbalan berupa uang, pangkat dan senjata. Namun Kiras Bangun menolak tawaran tersebut. Penolakan tersebut mencerminkan sifat Kiras Bangun yang lebih mengedepankan kepentingan rakyatnya daripada kepentingan pribadinya. 

Melalui kemampuan negosiatornya, Kiras Bangun berhasil  mengajak raja-raja di Tanah Karo untuk melakukan musyawarah. Musyawarah tersebut menghasilkan keputusan bahwa Belanda diijinkan untuk menjalin persahabatan dengan rakyat Karo asalkan saling menghargai dan menghormati. Selain itu, Belanda juga dilarang memasuki Tanah Karo dan ikut campur tangan dalam soal pemerintahan di Tanah Karo. Kesepakatan antara raja-raja di daerah Karo tersebut akhirnya menutup kemungkinan Belanda masuk ke Tanah Karo lewat jalur diplomasi. 

Belanda tidak kehilangan akal untuk menguasai Tanah Karo, pada tahun 1902 mengirimkan sejumlah pasukan kembali ke Tanah Karo. Kiras Bangun memberikan peringatan kepada Belanda agar segera pergi. Upaya ini ternyata tidak membuat pasukan yang dipimpin Guillaume menyerah dengan masih saja menetap di Tanah Karo hingga 3 bulan lamanya. Melihat gerak-gerik serdadu Belanda yang semakin mencurigakan, Kiras Bangun terus berusaha menghimpun kekuatan dengan beberapa Urung untuk mengusir Belanda meninggalkan Tanah Karo. Upaya pengusiran ini berhasil, sehingga menimbulkan kemarahan Belanda  dan  menyebabkan situasi semakin memanas. 

Kiras Bangun segera membangun kekuatan dengan melibatkan tokoh Aceh Tenggara dan Aceh Selatan untuk menghindari serangan Belanda yang dapat mengakibatkan kekalahan di pihaknya. Upaya lain yang dilakukanya adalah menggiatkan kembali pertemuan Urung untuk menyiapkan strategi dan rencana melawan Belanda. Hasil kesepakatan pertemuan Urung ini tercetus ide untuk membentuk pasukan dan benteng pertahanan di setiap Urung. Kiras Bangun tidak patah semangat walaupun mengetahui bahwa persenjataan mereka masih dalam jumlah terbatas dan hanya mengandalkan pedang, parang, tombak dan senapan. Dengan mengobarkan semangat juang ribuan rakyat di Tiga Jeraya dengan ikatan  “Sumpah Setia Melawan Belanda”, Kiras Bangun berhasil mempersatukan beberapa kelompok dengan latar belakang budaya dan etnis berbeda untuk mencapai tujuan bersama. Bukan hanya pemimpin yang kharismatik, namun Kiras Bangun merupakan orator yang ulung, sehingga dapat mengobarkan semangat juang dari pasukan yang di pimpinnya. 

Perjuangan Kiras Bangun melawan Belanda di mulai dari saat Belanda  melancarkan serangan  pada tahun 1904 yang menewaskan 20 orang pasukan Simbisa Urung. Penyerangan ini dilakukan Belanda di beberapa tempat, termasuk di Kabanjahe. Pasukan Kiras Bangun memberikan dua kali ultimatum, tetapi tetap tidak didengar, bahkan Belanda menambah jumlah pasukan yang lebih besar. Penyerangan Belanda terhadap pasukan Urung semakin tak terkendali. Ketidakseimbangan dalam aspek persenjataan tentu saja membuat pihak Belanda dengan cepat menguasai satu persatu benteng pertahanan Urung, termasuk menduduki Batukarang dan mengakibatkan gugurnya 30 orang dari pasukan Urung dan menyebabkan Nd. Releng br Ginting, istri Kiras Bangun menderita luka tembak. 

Setelah Batukarang berhasil dikuasai Belanda, maka pusat pertahanan berpindah ke Liren, Kuta Gamber, Kempawa, Pamah dan Lau Petundal. Daerah ini terletak di perbatasan Aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tanah Karo. Pemilihan tempat ini dilakukan karena medan yang bergunung, disertai lembah yang terjal, kurang subur serta berpenduduk jarang. Banyaknya korban berjatuhan akibat penyerangan Belanda tidak membuat pasukan Kiras Bangun menyerah. Selain sumpah yang telah mengikat mereka, semangat bertempur juga berkobar dengan motto yang selalu ditanamkan Kiras Bangun untuk terus melakukan perjuangan terhadap Belanda dimanapun, dengan apa yang dimiliki. Motto tersebut berbunyi “namo bisa jadi aras, aras bisa jadi namo” yang bila diartikan berbunyi sekarang kita kalah, besok kita menang.  

Pada kondisi terdesak, Belanda menawarkan Opportinuteits Beginsiel (prinsip oportunitas atau memanfaatkan situasi) untuk Kiras Bangun berunding mengambil keputusan. Jiwa Kiras Bangun yang heroik dan selalu mengutamakan kepentingan rakyatnya membuat beliau menerima penawaran Belanda walaupun dengan berat hati. Beliau mempertimbangkan perikemanusiaan dan batinnya yang terluka melihat banyak rakyatnya yang tewas menjadi korban pertempuran. Melihat sikap Kiras Bangun beserta pasukan yang berada dibawah pengaruhnya, Belanda melanggar kesepakatan dengan menghukum Garamata dalam bentuk pengasingan di kawasan ladang di Riung selama 4 tahun dan dibebaskan pada tahun 1909. Selepas ditahan, Kiras Bangun tidak berhenti melakukan perlawanan terhadap Belanda, rentang waktu 1919-1926 dengan dibantu kedua anaknya Kiras Bangun melancarkan gerakan bawah tanah hingga menimbulkan peperangan di Tanah Karo. Perang ini mengakibatkan dirinya dan kedua anaknya dibuang ke Cipinang sebagai bentuk hukuman dari Belanda. Kiras Bangun tutup usia di tanah kelahirannya di Batu Karang pada 22 Oktober 1942. 

Menurut catatan mantan Ketua Umum Yayasan Garamata, Mulia Tarigan, semangat perjuangan Kiras Bangun patut menjadi teladan. Falsafah hidup Kiras Bangun mementingkan kehidupan bersama dibandingkan dirinya sendiri. Sosok seperti Kiras Bangun dapat menjadi teladan agar bangsa Indonesia terus berkembang dalam kondisi sulit sekalipun. Pada 7 November 2005 berdasarkan SK Presiden RI No.82/TK/Tahun 2005, Kiras Bangun ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional setelah melalui serangkaian riset dari 13 ahli, diantaranya melibatkan pakar sejarah Anhar Gonggong dan Taufik Abdullah. Kisah heroiknya dapat memberikan tauladan bahwa agama dan adat istiadat yang berbeda bukanlah penghalang dan alat pemicu perpecahan, melainkan sebagai unsur pemersatu untuk bersatu membangun tekad dan tujuan demi kepentingan bersama. (*/Disarikan dari Pelbagai Sumber)
- See more at: http://www.bin.go.id/wawasan/detil/321/3/07/11/2014/bpk--bin#sthash.egbgIL3k.dpuf

Sumber : http://www.bin.go.id/wawasan/detil/321/3/07/11/2014/bpk--bin

9 komentar:

Suharto mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Suharto mengatakan...

met malem mas Salim. saya sudah lama gak buka blog ini. mungkin hampir setahun, saya sampe lupa. tadi waktu baru buka, kaget juga saya, ternyata ada blog sampean. tapi gk apa2. saya juga senang membaca info2 dari sampean. kalo boleh tau mas.., apakah sampean mengajar di unsyiah..., tks sebelumnya. salam.

Jul Fahmi Salim mengatakan...

selamat siang Mas Suharto, maaf baru bisa balas.
waduh mas, saya tidak mengajar di Unsyiah Mas. Saya masih berstatus Mahasiswa mas.
salam kenal mas, terimakasih sudah berkunjung, semoga ada manfaat yang bisa di ambil dari blog saya mas dan tlg berika masukan agar saya bisa lebih baik lagi mas.. :-)

Suharto mengatakan...

waduh..., blog sampean sudah bagus koq..... tidak ada yang bisa saya komentari. justru mungkin saya yang akan banyak bertanya dengan sampean..., he he. maklumlah..., saya kan bukan dari jurusan ilmu komputer..... kalo boleh tau..mahasiswa di Unsyiah ya mas..... keren ya.....?.... ambilnya jurusan apa...

Jul Fahmi Salim mengatakan...

Maksdnya isi blog saya mas, dengan adanya masukan kan bisa memperbaiki isinya mas.. iya mas, di Unsyiah ambil jurusan ekonomi pembangunan mas... apakah blog mas masih aktif?

Suharto mengatakan...

iya.., blog saya masih aktif. tapi kalau kita ketik, misalnya data nominal, atau data ordinal, di google, nanti akan muncul tulisan saya di blogspot, tapi ketika di klik, awalnya memang masuk ke blog saya, tapi kemudian masuk ke blog, atau alamat lain. saya juga bingung mas..., tapi kalo yang di wordpress, tulisan saya masih aman. sudah saya ganti password untuk blogspotnya, tapi koq masih begitu ya mas...., gimana2 kira2 solusinya ya...., tq

Suharto mengatakan...

coba aja ketik di google mas..., misalnya pengertian data ordinal, atau pengertian data nominal, nanti kalau ada suhartoumm.blogspot.com..., itu berati tulisan saya..., terus saja klik alamat itu..., awalnya memang masuk ke tulisan saya..., tapi kemudian masuk ke alamat lain....

Suharto mengatakan...

mengenai isi blog sampean, menurut hemat saya mulailah menulis, tentang apa saja. tapi jangan lupa memasukkan sumber2nya dengan jelas. sekecil apaun sumber tulisan harus kita masukkan. daftar pustakanya., dan lain2nya. sampean kan dari fakultas ekonomi, tentu tulisannya banyak muatan2 ekonomi, karena mungkin sampean lebih menguasai dalam bidang itu....

Jul Fahmi Salim mengatakan...

Terimkasih mas atas masukannya. ow, mungkin karena jarang di buka mungkin mas makanya agak bermaslh gt dengan link blog mas suharto. saran saya coba saja di buat blog baru lagi mas,dan swbisanya sering di bukan minimal 2 hari sekali lah mas dan posting beberpa tulisan dalam seminggu. agar blog kita dianggap masi aktif oleh google mas.. terimakasih atas masukannya mas. semiga kedepannya tulisan2 saya busa lebih bagus lagi..