Selasa, 09 Desember 2014

Cara Download Video Dari Youtube Menggunakan Savefrom.net

Oleh : Jul Fahmi Salim

Asslamualaikum. wr.wb..

sering mengalami kendala dalam mendowload video dari youtube?
bahkan setelah memiliki IDM?
Tenang-tenang....
Jangan sampai anda menggaruk-garuk dinding....

nah, ini ada cara yang cukup mudah dan tanpa menggunakan add on..

berikut langkah-langkahnya :

- buka situs youtube
- cari video yang akan di download (saya ingin mendownload video comic story eps 34)
- Copy link addresnya


- Buka situs savefrom.net
 - kemudian paste kan pada kolom link di savefrom.net
- klik download




- klik MP4 di sebelah kanan (beberapa video terkadang memilih beberapa tipe file yg bisa didownload, tapi untuk comic story ini sepertinya hanya terdapat jenis file MP4 saja)




- kemudian tunggu beberapa saat, jika meggunaka IDM maka windows download akan keluas secara sendiriya

- kemudian klik start download



- tunggu sampai sampai selesai di download





selamat mencoba..... :-)

Terimakasih Sudah berkunjung.....

Selasa, 02 Desember 2014

Don,t Judge Book From The Cover...!!!!

Assalamualaikum wr wb....

Oleh : Jul Fahmi Salim

Jangan terlalu cepat menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja..

Hal ini merupakan yang sering kita lakukan di kehidupan sehari-hari, seseorang yang berbaju lusuh
belum tentu orang bisa saja, begitu juga sebaliknya, dengan berpakaian bagus belum tentu orang tersebut kaya dan sejahtera..

Ni salah satu contohnya...

Medan... ya Medan..  apa yang terpikir bila kita mendengar kata "Medan" ??

Bika Ambon ( kenapa nggak Bika Medan Ya??) ?

Sumber : google image


Bolu Meranti ?



Sumber : google image


Atau mesjid agung ?

Sumber : google image

Istana maimun ?



Sumber : Google Image


Atau Danau TOBA yg terkenal ???

Sumber : Google Image

Tulisan kali ini dibuat karena teringat dengan Nenek - nenek, Angkot. dan Tatooo..!!!!
( Lah kok ada tato segala???)


Sumber : google image


Sumber : google image

Sumber : Google Image




Medan merupakan daerah yang Mayoritas di huni oleh masyarakat batak. seperti yang kita ketahui, suku batak memiliki watak yang keras, padahal hatinya baik dan sangat setia kawan. ( berdasarkan pengalaman sendiri, heheh ).

Hari itu saya sedang dalam perjalan pulang dari bimbel dari daerah Ismud ( singkatan buat nama jln Iskanadar Muda) menuju ke kos tercinta di daerah Titi Kuning dengan menaiki angkot no KPUM 25 Kuning dan seperti biasa supirnya tentu bermuka garang ( karena memang perawak orang medan begitu.hehehhe), baju u can see dan bertatoo. Di tengah jalan naiklah seorang "opung" nenek -  nenek, seraya berkata kepada supir angkot untuk menurunkannya di daerah yang ia sebutkan. singkat cerita, angkot kami pun sampai di tempat nenek terebut akan turun, dan sang supir yang bertatoo pun menghentikan mobilnya, namun apa yang terjadi? si nenek tidak tau jelas dimana alamat yang dituju nenek tersebut dan gang jalannya rupanya kelewatan !!!



                      Sumber : google Image

Tapi yang membuat saya heran, sang supir bertatoo kita memutar balik angkotnya ke jalan gang yg dituju, kemudian turun seraya mengajak nenek ke tempat yg dituju, mereka pun masuk ke dalam gang yang lumanyan sempit. Tak beberapa lama kemudian sang supir pun kembali. seraya berkata kepada saya yang memang duduk di depan, 
"sayang kali nenek tadi bang, nggak ingat dia rumah anaknya, untunglah ingat dia sikit-sikit pas ku bawak masuk ke dalam gang tadi"..



              Sumber : Google Image


Aih, awak aja belum tentu mau begitu, jujur... tapi apa yang kita lihat barusan dengan seseorang berperawakan garang, baju u can see dan bertatoo ???

Nah, masih kah kita tergesa-gesa dalam menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja?

Dont judge too quickly.... :-)

Rabu, 26 November 2014

Comic Story

Oleh  : Jul Fahm Salim

Assalamualaikum wr wb..

Terkadang di sela - sela kesibukan kuliah dan kegiatan sehari - hari, perlu untuk merileks kan otak, salah satunya dengan menonton film comedy...

salah satunya adalah Comic Story, cerita anak kuliah yang memiliki latar belakang berbeda dan sifat yang unik-unik..
Dibintangi oleh anak-anak jebolan SUCI 1,2,3 dan 4 serta komedian senior seperti Indro warkop, Raditya Dika, Pandji., serta banyak bintang lainnya... selamat menikmati semoga terhibur....

Berikut merupakan link untuk mendownload comic story..

Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31

sumber : channel youtube kompas TV

Selasa, 25 November 2014

Pengumuman Kelulusan TKD (Tes Kemampuan Dasar) CPNS 2014 Yang Di Keluarkan BKN

Oleh : Jul Fahmi salim

Assalamualaikum wr wb...

Setelah berjibaku dengan segala tantangan yang dilalui untuk mengejar salah satu cita-cita
akhirnya hasilnya pun di umumkan secara  terbuka melalui website BKN Pusat...
berikut merupakan link pengumuman kelulusan TKD (Tes Kemampuan Dasar)

silahkan buka situs www.bkn.go.id

atau klik disini

Pengumuman Hasil TKD Instansi Pusat / daerah Gelombag Pertama  ( I ) klik disini



Kementerian Sekretariat Negara :

Sekretariat Kabinet :

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) :

Komisi Yudisial (KY) :

Badan Standarisasi Nasional (BSN) :

Pemprov. DKI :

Kementerian BUMN :

Perpustakaan Nasional RI :

Kemenkokesra :

Pengumuman Hasil TKD Instansi Pusat / daerah Gelombag Kedua ( II ) klik disini



Sumber : http://www.bkn.go.id/







Kamis, 30 Oktober 2014

Kemiskinan, salah siapa?

Oleh : Jul Fahmi Salim

Asslamualaikum wr wb....

Kemiskinan, ketika mendengar kata itu maka yang ada di pikiran kita adalah kekurangan, kemelaratan, kesusahan dan serba kekurangan. Namun jika kita ditanya sebuah pertanyaan, siapakah penyebab terjadinya kemisikinan tersebut ? mungkin sebagian besar orang akan menjawab " Pemerintah". ya semua disalahkan kepada pemerintah.Pernahkah kita berfikir, bahwa faktor utama keberhasilan kita untuk keluar dari kemiskinan itu adalah kita sendiri, padahal kemiskinan merupakan suatu fenomena yang di akibatkan oleh pola pikir individual yang susah untuk dirubah.

Cerita di suatu tempat antah barantah.....

Alkisah terdapatlah di suatu daerah dengan Pemerintahan yang lumanyan bagus. Dahulu alasan masyarakatnya adalah masih terbatasnya akses jalan. Kemudian pemerintah pun membangun jalan, sehingga kegiatan perekonomian pun mulai menggeliat. Pemerintah yang baik ingin lebih memajukan kesejahteraan penduduknya, kemudian diberikan kredit usaha lunak (dengan bunga yg rendah), tapi banyak yg mengeluh bahwa susah untuk mengembalikannya, dan ada sebagian digunakan untuk konsumtif. karena kapok dengan bantuan berupa dana,  maka pemerintah kemudian memberikan bantuan berupa pupuk sebanyak 4 zak untuk padi mereka. Namun apa yang terjadi, pupuk bantuan yang diberikan oleh pemerintah kemudian di jual sebanyak 2 zak. mereka menjualnya hanya dengan harga sekitar 180 an per zak dan totalnya hanya dapat "keuntungan" Rp.380.000.  Kemudian seorang anak bertanya kepada si petani tersebut, " Pakcik, kenapa pupuknya dijual? " si petani pun menjawab, " ah, kapan lagi bisa dapat untung gini".

Miris memang, tapi mau bagaimana lagi, pola pikirnya masih seperti itu. itulah sebabnya terkadang pemerintah kapok memberikan bantuan kepada masyarakat. Hitung - hitungan kasarnya, dengan luas lahan pertanian seluas 5 Petak sawah, dapat menghasilkan padi sebanyak 10 Karung besar. Jika ditambah dengan meggunakan pupuk maka produktifitas padi meningkat sekitar 25 persen, berarti dengan peningkatan sebesar 25 persen maka akan mampu menghasilkan 14 Karung padi.

Mari berhitung keuntungan antara petani yang menjual pupuk dan yang menggunakannya.....

Petani Menjual Pupuknya :

5 Petak sawah                  = 10 Karung Padi
10 x Rp. 400.000             = Rp. 4.000.000
Penjualan pupuk 2 zak    = Rp.   360.000 ( Tambahan Pendapatan )
Total Pendapatan             = Rp. 4.360.000

Petani Menggunakan Pupuknya

5 Petak sawah                         = 10 Karung Padi
Menggunakan Pupuk 4 Zak    = 14 Karung Padi
4 x Rp. 400.000                       = Rp. 1.600.000 ( Tambahan Pendapatan )
14 x Rp. 400.000                     = Rp. 5.600.000
Total Pendapatan                     = Rp. 5.600.000

Jika si petani menggunakan pupuk maka keuntungan atau manfaat yang didapatya adalah sekitar 450 persen daripada ia tidak menggunakan pupuk.
Sebegitu besar keinginan pemerintah buat meningkatkan pendapatan  petani, namun dengan pola pikir si petani seperti itu,  sampai kapanpun tidak akan bisa meningkatkan pendapatan petani terebut.
Jadi pertanyaan nya kembali adalah, kemisikinan itu salah siapa ????

Terimakasih sudah berkunjung.... :-)

Rabu, 29 Oktober 2014

Kecil - kecil Jadi Mufti

    Assalamualaikum semua.. Terimakasih kesediaan anda berkunjung diblog sederhana ini.. Niat saya membuat blog adalah untuk berbagi kisah dan pengalaman, meningkatkan kemampuan menulis, menghidupkan semangat belajar, dan sebagai sarana untuk terus membekali diri dengan ilmu-ilmu yang terkait dengan perkuliahan saya.. Ini postingan pertama saya taw.. Jadi harap dimaklumi ya semuaa.. Nahh,,berikut ini akan sedikit saya ceritakan kisah seorang anak kecil yang jadi mufti..disimak baik2 taw..hehee Suatu hari,di mesjidil haram,,seorang guru tengah menyampaikan ilmu kepada murid2nya.Dengan penuh lugas,jelas,dan komunikatif,guru tersebut mengajarkan materi fiqh,muamalah,jinayah dan hukum2 kriminal. Namun ada yg ganjil dlam majelis itu,,ternyata pak guru jauh tmpak lebih muda daripada murid-muridnya,,bahkan ditengah proses belajar mengajar,,ia sempat minta izin untuk minum,,padahal siang itu adalah bulan ramadhan.kontan saja"ulah"pak guru menuai protes."kenapa anda minum,padahal inikan bulan ramadhan ?",tanya para murid.Ia menjawab,"aku belum wajib berpuasa". Siapakah pak guru yang terlihat nyeleneh tersebut? Ia adalah Muhammad Idris Asy Syafi'i,yg lebih kita kenal dengan Imam Syafi'i.

   Nahh,,pembaca semua kita tak usah heran dengan kisah tersebut,karen pada usia belum baligh Imam Syafi'i sudah menjadi ulama yang disegani.Usia 9 tahun sudah hafal Al-Qur'an.Usia 10 tahun isi kitab Al-Muwatha' karya Imam Malik yang berisi 1.720 hadist pilihan juga mampu dihafalnya dengan sempurna.pada usia 15 tahun telah menduduki jabatan mufti(semacam hakim agung) kota makkah,sebuah jabatan prestisius pada masa itu.Bahkan di usia 15 tahun,Imam syafi'i sudah dikenal mumpuni dalam bidang bahasa dan sastra arab,hebat dalam membuat syair,jago qiraat,serta diakui memiliki pengetahuan yang luas tentang adat istiadat arab yang asli.subhanallah.. luar biasa.. Pembaca sekalian,kisah tersebut menjadi sebuah motivasi besar dalam hidup kita dalam menggali potensi diri dan melejitkannya meraih prestasi luar biasa serta tidak menyia-nyiakan momentum dan kesempatan dalam mengembangkan diri.. Nahh pesan penulis untuk semua mari mulai sekarang kita menyusun rencana hidup untuk melahirkan amal-amal unggulan..terlebih dibulan ramadhan yang suci nan berkah ini.. Wassalam ..

Sumber klik disini

Selasa, 09 September 2014

Cara Membuat Daftar Isi di Microsoft Word

Assalamualaikum wr wb....

Baiklah, pagi ini saya akan mencoba untuk  memberikan langkah-langkah dalam membuat daftar isi....

cara membuat daftar isi di microsoft word

1. Buka microsoft word
2. buat tiga buah tab ruller



3. kemudian klik panah di samping tab paragraph

4. setelah keluar jendela paragraph, pilih "Tabs"


5. Terdapat 3 buah tab, pertama untuk tab kiri, kedua tab tengah dan ketiga tab kanan

6. untuk tab kiri, klik angka teratas, kemudian klik oke


7. untuk tab kedua, klik angka kedua, kemudian pilih "center" kemudian  " ...... " dan "none" kemudian klik Ok


8. Untuk tab ketiga, klik angka ketiga, kemudian pilih "left" "none" dan "one" dan klik ok

9. kemudian ketik isi dari daftar isi yang diinginkan
10.setelah itu, spasi dan tekan tombol "tab" di keyboard dan akan keluar tanda "......."
    kemudian tekan tab lagi akan berpindah keagian kanan lembar kerja, ketikan nomor halaman
11. untuk membuat sub bab cukup menambahkan tab pada ruler. tetapi tidak perlu di ubah kiri, kanan atau tengah, cukup kiri saja


Berikut merupakan hasil pembuatan daftar isi, tersebut...


Cukup mudah bukan, 

untuk melihat videonya  klik disini

Selamat mencoba...
Terimkasih sudah berkunjung...




Selasa, 26 Agustus 2014

Memulai Pembangunan dari Daerah Sendiri

Oleh : Jul Fahmi Salim

   Tulisan kali ini, terinspirasi dari sebuah berita (“Negeri Sentosa, Tak Tersorot Kamera”, klik disini link  ) yang menurut saya begitu mengagumkan, mulai dari jalan yang bagus, listrik mandiri, pengelolaan objek wisata yang maksimal serta masih banyak lagi prestasi lainnya,  yang sedikitnya banyaknya jika ada kemauan bisa diterapkan di daerah kita masing-masing.

   Dalam perkembangannya suatu daerah tidak boleh hanya berpaku pada metode pembangunan tradisional, hal ini dikarenakan konsep tradisional akan secara alami pasti tertinggal dengan konsep pembangunan modern. Hal ini dikarenakan konsep pembangunan tradisional hanya bertumpu pada kemampuan seadanya tanpa menitikberatkan pada teknologi. Sedangkan konsep pembangunan modern akan lebih menggunakan berbagai teknologi dalam pembangunan daerah tersebut. Karena dengan menggunakan tekhnologi, proses pembangunan bisa lebih efisien dan lebih efektif baik dari segi waktu maupun dari segi finansial.

   Untuk memulai suatu pembangunan modern, ada beberapa langkah yang perlu sekali dilakukan pemerintah yaitu : 
  • Pemetaan daerah atau region- region tertentu berdasarkan potensi yang ada.
Pemetaan ini berguna untuk dapat menentukan potensi apa yang terdapat di masing-masing wilayah tersebut,
  1. Daerah Pesisir : daerah mana yg cocok untuk di bangun pelabuhan ikan termasuk cold storage, daerah mana yang cocok dibangun tambak ikan baik darat maupun payau.
  2. Daerah dataran rendah dan tinggi, wilayah mana yang cocok dijadiakan sebagai lumbung pangan. Wilayah mana yang cocok dijadikan sebagai sentra perikanan air tawar. Wilayah mana yang sesuai dijadikan sebagai sentra perkebunan, seperti kopi, karet, pala, jagung, dsb. 
  • Pembangunan akses jalan
     Setelah mampu memetakan potensi daerah tersebut maka langkah selajutnya adalah membangun akses jalan, akses jalan merupaka salah satu nadi dalam kegiatan perekonomian. Karena seberapa besar pun potensi daerah tersebut maupun produksi di daerah tersebut melimpah, jika tidak terdapat akses jalan maka jangan harap hasil produksi tersebut mampu bermanfaat bayak, terlebih lagi jika itu merupakan produk pertanian. Kita semua tahu bahwa produk pertanian begitu mudah membusuk, sehingga mengakibatkan produk pertanian sensitif terhadap ada tidaknya akses jalan yang mengankut produk pertanian tersebut.
  • Peningkatan sarana dan prasarana
    Sarana dan prasarana sangat diperlukan dalam suatu pembangunan, karena tanpa adanya sarana da prasaran maka bukan tidak mungkin pembangunan suatu daerah bisa saja jalan di tempat, terdapat sarana dan prasarana saja tidak cukup, tetapi yang sudah ada pun harus ditingkatkan, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
  • Memetakan kembali potensi setiap daerah
Setelah melakukan pemetaan dan perencanaan yang matang, sebaiknya melakukan kembali pemetaan sederhana, maksudnya adalah kita harus membuat skala prioritas dalam pelaksanaan pembangunan tersebut, agar tidak terjadi timpang tindah proses pembangunan..

   Dengan seringnya saya membaca  berita di berbagai media elektronik maupun cetak, bahwa perekonomian Aceh sangat bergantung pada daerah tetangganya yaitu Sumatera Utara. Apakah selamanya akan seperti itu? Bisa dibayangkan besarnya uang kita warga aceh mengalir keluar? ini dikuatkan dengan pemberitaan di serambi yang cukup fantastis, berita tersebut  menyatakan 75 persen uang Aceh mengalir keluar Aceh. Banyaknya aliran dana yg keluar dari konsumtif kita sebagai masyarakat Aceh malah berputar di daerah luar aceh.


Persawahan
Sumber : Dokumen Pribadi

Aceh Tenggara

Kutacane, Aceh Tenggara
Sumber : http://acehtenggarakab.bps.go.id/index.php?r=site/index


     Terlepas dari itu semua, untuk memperbaiki keadaan tersebut baiknya dilakukan dari Pemkab/ pemko masing- masing. Mari kita misalkan saja daerah Aceh Tenggara (Agara). Di Agara sektor ekonomi yang paling besar adalah dibidang pertanian, hal ini dikarena letak posisi geografisnya yg berada di daerah pegunungan dan memiliki dataran rendah yang cukup luas., sehingga sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar dalam PDRB Aceh Tenggara.



Persentase antar sektor PDRB Kab Aceh Tenggara tahun 2011
sumber : http://acehtenggarakab.bps.go.id/index.php?r=site/index


     Sektor terbesar penyumbag PDRB Kab. Aceh Tenggara dikuasai oleh sektor pertanian sebesar 40 persen. Ini disebabkan karena mayoritas masyarakat Agara memiliki lahan pertanian, baik sub sektor tanaman pangan, perikanan, perkebunan dan sebagainya. Selain pertanian, usaha perikanan juga sangat besar, tapi memang hitungan besar tersebut bukanlah miilik segelintir orang,melainkan berjamaah, hehhehe. Maksdnya adalah, banyaknya terdapat usaha budidaya ikan mas tersebut merupakan sebagian besar milik pribadi dan luas kolam yg cenderung kecil. Karena setiap kepala keluarga hanya memilik beberapa petak kolam, karena sebagian besar yang punya kolam ikan menjalankannya sebagai usaha sampingan, ke├žil-kecilan dan sering tidak konsisten  sehingga output yg dihasilkan pun kurang maksimal.

Budidaya Ikan Mas
Sumber : Dokumen Pribadi


   Ada baiknya Pemda Agara melakukan pemetaan dimana terdapat potensi budidaya perikanan, kemudian melakukan integrasi dengan pihak terkait misalnya dinas perikanan. Peran dinas perikanan disini sangat vital, karena mereka seharusnya yang mengontrol usaha perikanan tersebut, mulai dari memastikan distribusi pakan ikan berupa " pelet ", penyuluhan mengenai pembudidayaan ikan sampai masalah bibit ikan yang dirasa perlu. Untuk masalah yg terakhir tersebut, jika mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri, perlu dilakukan koordinasi dengan dinas perdagangan untuk memasarkan produk perikanan tersebut dengan daerah tetangga dan daerah lainnya yang dianggap potensial sebagai mitra perdagangan. Tentu saja kita sebagai produsen harus mampu memenuhi keinginan konsumen luar serta mampu bersaingan dengan produk perikanan dari daerah luar agar kuantitas penjualan ke luar daerah stabil..

     Bisa dibayangkan besarnya multiplier efek perekonomian dari penguatan dari sektor perikanan ini? Mulai dari penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan penduduk, penurunan angka kemiskinan hingga peningkatan PAD kabupaten. Bukan tidak mungkin, jika kita mampu mempertahankan/ konsisten dalam hal output, baik kualitas dan kuantitasnya, bisa saja kedepannya akan terbentuk industri - industri kecil dan jika pemkab mau, dapat didirikan industri pengolahan ikan mas tersebut. Tujuan dari pembuatan industri ini adalah agar kita memperoleh nilai tambah (value added) dari penjualan ikan tersebut, kita tidak hanya menjualnya dalam bentuk ikan biasa, namun bisa saja diolah menjadi ikan  sale yang kemudian di kemas, bisa juga dijadikan abon mungkin, dengan hanya ditambah beberpa pengerjaan akan meningkatkan harga ikan tersebut. Sebagai perbandingan saja jika dijual dalam keadaan blum diolah harganya Rp 25.000/kg sedangkan ketika sudah menjadi ikan sale (ikan di asap) harga jualnya mencapai Rp. 40.000/kg. Untuk sale ikan sudah ada yang memproduksinya dan kelihatannya masih dalam skala kecil berupa usaha sampingan, karena masih cukup sulit menemukannya di pekan ( sebutan pasar tradisonal untuk daerah Agara ). Seharusnya disini lah peran dinas koperasi dan umkm sangat diperlukan untuk membentuk bibit pengusaha sale ikan ini. Mulai dari penyediaan bantuan peralatan, pengucuran pinjaman lunak, bimbingan dalam proses produksi dan jika perlu mengajak serta beberapa pelaku usaha untuk studi banding ke daerah lain yg sudah sukses dalam menjalankan usaha ini. Hal ini berfungsi untuk menambah wawasan dan pengetahuan para pelaku bisnis ini agar mampu berkembang ke depannya, memang untuk abon belum pernah saya lihat sendiri, mungkin karena belum ada yang memulainya..hehehe

     Cukup tinggikan harganya? Dan itu baru hanya dari sektor perikanan saja, bagaimana jika sektor perkebunan, peternakan, pariwisata  dan juga sektor lainnya di optimalkan, bayangkan seberapa besar manfaat yang diterima masyarakt serta pelaku kegiatan perekonomian yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan Pemkab Agara. Dengan menguatkan salah  satu sektor saja yaitu berupa sektor pertania dan sub sektor perikanan, maka akan mampu mendongkrak sektor perindustrian dan jika mampu berproduksi lebih besar akan turut meningkatkan peran sektor angkutan dan jasa. Bukan tidak mungkin Pemkab Aceh Tenggara dapat dijadikan  sebagai salah satu daerah yang diperhitungkan baik di lingkup Provinsi Aceh maupun diluar Aceh..

Peternakan Unggas
Sumber : Dokumen Pribadi


Perkebunan
Sumber : Dokumen Pribadi


Pertanian
Sumber : Dokumen Pribadi


Wisata Pemandian Alam
Sumber : Dokumen Pribadi



    Kembali menjadi pertanyaan di benak kita bersama adalah, kenapa daerah lain bisa sedangkan daerah kita sendiri tidak? apakah kita kekurangan dana? apakah kurangnya koordinasi antara pihak eksekutif dan legislatif? Apakah kita terlalu manja dan tidak mau berusaha? apakah kita tidak memiliki SDM yang memadai?  Atau memang KEMAUAN yang tidak ada?

   Terimakasih sudah berkunjung....
   Mohon berikan kritik dan saran untuk memperbaiki tulisan ini.... 

Terima Kasih banyak...  :-)

Kamis, 21 Agustus 2014

Petuah dari kaki Gunung

     
Oleh : Jul Fahmi Salim

   Pagi itu masih setengah 8 pagi, ayah ngajak ke lawe harum..kata beliau mau nyari durian, buat dikirim ke kawan lamanya di medan...hehehhe. Dan berbekal goni 2 bji,parang dan seperangkat alat  penyemprot pestisida, Dengan menggunakan kereta kami pun pergi ke lawe harum.... Seperti tradisi atau kebiasaan dr dulu kali ya, sebelum naik gunung hampir selalu singgah dulu di kede kopi di kaki gunung, tepat bebeepa meter seblum jembatan yg menghubungkan kaki gunung dan gunung iyi sendiri. Ayah pun sibuk bercerita dengan kawan2nya, aku juga sibuk nyeruput teh panaaaas ( pas kali teh panas ama suhu 20°C an ) yg br saja dihidangkan pemilik kede.. Ketika itu entah darimana datangnya, datanglah opung ini (kami manggilnya opung regar) ni  seraya berteriak, "apa kabar pak guru?? " sontak kami menoleh ke arah suara itu. Ternyata emang opung regar.hahahha

   Ketika asik bercerita, ada satu kalimat yg menarik "sesekali pergi lah k luar daerah supaya tau dunia luar". Kenapa kek gitu pung? Tanya ku. Maka beliau pun menceritakan pngalaman waktu masi muda. Opung berkisah, waktu masih kecil beliau hanya sering mendengar " kapal laut itu besar  ", " pesawat terbang bisa terbang tinggi "  dan " kereta api itu panjaaaaang "...maklum, dulu susah untuk akses info, jangankan internet, tivi aja hanya beberapa orang aja yang oubya.. Dulu, beliau pergi ke pelabuhan belawan, pengen ngeliat kapal katanya. Sampailah beliau di pelabuhan belawan, beliau bersandar di kapal ntah apa namanya lupa, (kata opung, dia nggak tau kalo itu kapal laut yg pengen dia liha, karena menurut cerita beliau panjangnya 135meter an, dan bertingkat2). Dia bertanya ama orang di sekitar " mana kapal kaut yg besar itu? Aku pengen lihat". Lantas orang itu menjawab, " itu lah pak, yang bapak sandarin itu". Dengan logat bataknya Opung pun menjawab " mana ada, bukan kapal ini, ini rumah susun ini". Orang td pun pergi begitu saja dan "setelah lama2 ku lihat ternyata emang betul itu KAPAL LAUT...,, " ujar opung.
     Sekali lagi opung tu bilang, "sesekali pergi la keluar, supaya tau apa itu kapal laut, jangan kayak opung".. Jika kita bisa mengambil hikmahnya adalah, jangan hanya terpaku dan diam di daerah sendiri agar kita tau bagaimana menjalani hidup dan berinteraksi serta mengenal kebiasaan orang lain di luar sana.....

Rp 40,8 triliun mana jejaknya?

     Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh untuk tahun 2015 mencapai Rp 7 triliun. Dengan demikian, sejak digelontorkan pertama kali tahun 2008, Aceh sudah menerima dana otsus sebanyak Rp 40,8 triiun. Pertanyaannya, sudah optimalkah penggunaan dana itu untuk kepentingan masyarakat seperti diperintah UUPA?
     Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) memerintahkan penggunaan dana dimaksud benar-benar untuk kepentingan masyarakat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Pansus DPRA dan Badan Anggaran DPR RI terhadap penggunaan dana Otsus, menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Pemanfaatan dana otsus belum mencapai hasil sebagaimana diharapkan. Banyak proyek otsus tidak tepat sasaran, tidak tepat peruntukan, tidak tepat waktu, dan tidak tepat pelaporan.
     Mestinya, pihak eksekutif di provinsi dan kabupaten/kota memahami benar bahwa dana otsus harus dimanfaatkan untuk membiayai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, sosial, dan kesehatan.
Kamudian, harus disadari pula bahwa dana otus ini bukan pendapatan yang abadi. Tapi hanya diberikan selama dua puluh tahun. Untuk tahun pertama (2008) sampai tahun ke-15 (2022) besarnya setara dengan 2% dari plafon Dana Alokasi Umum Nasional (DAUN). Untuk lima tahun berikutnya (2023-2028) besarnya setara dengan 1% plafon DAUN.
Kini, penerimaan dana itu sudah tahun ke-8 atau dengan jumlah total penerimaan hampir Rp 41 triliun.
     Itu merupakan angka yang luar biasa besarnya. Karenanya, akan sangat kita sesalkna jika uang sebanyak itu tidak meninggalkan “jejaknya” pada daerah dan masyarakat Aceh. Seorang peneliti mengatakan, salah satu cara melihat gagal atau berhasilnya pemanfaatan dana otsus adalah dengan kacamata kesejahteraan.
Makanya, penggunaan dana otsus yang terwujud dalam regulasi daerah tak boleh melenceng dari tujuan meningkatkan kesejahteraan. Pola pola hubungan provinsi dengan kabupaten/kota harus harmonis hingga ke programnya. Jangan sampai seperti selama ini, kabupaten/kota sering tidak tahu atau tidak mau tahu adanya proyek yang dibiayai provinsi dengan dana otsus di daerahnya. Lebih celaka lagi, setelah dikerjakan malah telantar. Kabupaten/kota seolah merasa tak butuh, kenapa dibangun atau diberi?
     Jadi, hal-hal seperti inilah yang terkadang menjadikan dana otsus itu tak tepat sasaran bahkan mubazir. Justru itu pula, si peneliti tadi mengatakan, “Pengelolaan dana otsus Aceh masih dibarengi dengan lemahnya kapasitas ‘memerintah’ Pemerintah Aceh. Ini terlihat dari tingginya anggaran yang tak dipakai setiap tahun. Dalam empat tahun pertama, rata-rata sekitar Rp 1 triliun per tahun tak terpakai akibat buruknya relasi provinsi-kabupaten/kota dalam pengelolaan dana otsus.”
Kita takut, tahun 2029 akan ada anak Aceh yang bertanya: Mana jejak dana otsus?

sumber : klik disini

Senin, 18 Agustus 2014

Cara Jepang Suburkan Tanah

OLEH M ILHAMSYAH SIREGAR,
Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Kyoto

    SAYA mendapat kesempatan ikut Diklat ToT Public Policy Planning Program Professional Human Resource Development Project (PHRDP) di Jepang selama dua minggu baru-baru ini. Program ini hasil kerja sama Bappenas RI dengan Ritsumeikan University, Jepang. Ini tahun keempat program PHRDP diselenggarakan, diikuti 25 orang dari Bappenas dan berbagai universitas di Indonesia, termasuk Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Pelatihannya dipusatkan di tiga lokasi kampus Ritsumeikan University: Kyoto, Kitakyusu, dan Tokyo.

      Ritsumeikan University memiliki sejarah panjang dan reputasi cemerlang di Jepang. Universitas ini didirikan tahun 1900 dan terus berpacu  menjadi pusat riset perencanaan, teknologi, dan kebudayaan. Saat ini, Ritsumeikan University memiliki lebih dari 42.000 mahasiswa.
Di Kyoto, saya dan peserta diklat lainnya mendapatkan kesempatan mengunjungi Kameoka, kota kecil di sebelah barat daya Kyoto, kira-kira 48 menit perjalanan darat.

      Kunjungan tersebut dilaksanakan untuk mendengarkan kisah sukses inovasi Cool Vege TM yang digagas Ritsumeikan University dan Pemko Kameoka. Ide Cool Vege bermula dari kerisauan Profesor Akira Shibata, Guru Besar Ritsumeikan University dan Sekretaris Jenderal Japan Biochar Association, akan dampak perubahan iklim dan melihat ada peluang untuk mengimplementasikan teknologi arang biochar yang sederhana dan murah untuk mengikat gas karbon dengan spirit mulia mengurangi dampak perubahan iklim. Teknologi biochar yang dipakai adalah biochar yang dikembangkan oleh sahabatnya, Profesor Makoto Ogawa dari Osaka Institute of Technology tahun 1980.

      Ide inovasinya adalah dengan cara mengikat gas karbon di udara dan disimpan di tanah. Gas yang diikat dari proses fotosintesis tumbuhan yang mendapatkan tambahan biochar itu, tidak hanya mengurangi gas karbon pada udara bebas, tetapi juga dapat menyuburkan tanah.
Arang biochar dibuat dengan cara yang sangat sederhana, yaitu pembakaran biomas dengan teknik miskin oksigen untuk menghasilkan arang biochar yang berkualitas, namun tak menghasilkan banyak asap.

      Profesor Shibata yang menemani kami di Kameoka, menjelaskan bagaimana ia secara sistematis mengembangkan Carbon Minus Scheme Model dengan memanfaatkan teknologi biochar.
      Pertama, kelompok petani diberikan penjelasan yang lengkap tentang skema Carbon Minus serta berbagai manfaat yang akan mereka terima, termasuk manfaat penyelamatan lingkungan. Sebanyak 21 kelompok petani memanfaatkan teknologi biochar dalam proses cocok tanam yang mereka lakukan. Produksi yang mereka hasilkan diberi merek dagang Cool Vege TM dan tercatat secara resmi di Kementerian Perdagangan. Proses ini merupakan kunci keberhasilan seluruh skema yang dijalankan. Profesor Shibata dengan cerdik mengantisipasi potensi kegagalan skemanya dengan cara mempersiapkan kelembagaan kelompok petani dan memperkuat kapasitas mereka, serta memberikan merek dagang sebagai identitas yang berkarakter.
      Kedua, untuk memastikan ketersediaan kompos, Pemko Kameoka dibantu Kementerian Pertanian Jepang membangun pabrik pembuatan kompos di pinggiran Kota Kameoka. Produksi pabrik tersebut 5.000 ton per hari di atas lahan seluas kurang lebih 1 hektare. Kompos yang dihasilkan dijual kepada kelompok petani yang sukarela mengikuti skema Carbon Minus, dengan harga 5.000 yen per 500 kilogram, atau kira-kira Rp 1.000 rupiah per kilogram. Harga yang sedemikian murah tidak lepas dari efisiensi produksi kompos di pabrik tersebut.
      Ketiga, agar produksi 21 kelompok petani yang terlibat dalam skema ini lebih cepat dikenali, lebih mudah dipasarkan dan memiliki reputasi yang lebih baik, Profesor Shibata mengembangkan aspek pemasaran yang memanfaatkan dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan di Kyoto dan di prefektur lainnya. Tak main-main, perusahaan properti raksasa Jepang Daiwa House dan Bridgestone mengeluarkan uang banyak untuk mendukung Cool Vege TM.
Cool Vege TM dijual di berbagai supermarket di Kyoto dengan harga kompetitif, meskipun diproduksi serbaorganik. Kemampuan bersaing menjadi kata kunci kebersinambungan produksi mereka.

      Selama tahun 20013, total penjualan produk Cool Vege TM telah menyentuh angka hampir 10 juta yen.  Hingga April 2014, angka tersebut meningkat hingga lebih dari 30 juta yen. Meskipun statistik di atas bukan statistik yang fantastis, tetapi carbon minus scheme dan Cool Vege TM merupakan ide yang hebat. Idenya sederhana, tapi dibangun dengan pilar pembangunan yang utuh: membangun social capital petani, memberdayakan ekonomi masyarakat, dan menyelamatkan lingkungan. Kerja keras Profesor Shibata diganjar Gold Prize Achievement dari Kementerian Lingkungan Jepang pada 17 Februari 2013. Sesaat sebelum Profesor Shibata turun dari bus yang membawa kami ke Kameoka, sambil tersenyum Profesor Shibata berujar, “Use your brain.” Domo sensei, arigatogozaimash. 
[email penulis: ilhamatwork@yahoo.com]

Sumber : klik disini

Jumat, 04 Juli 2014

Ini Cerita Tentang Pulang Kampung kemarin...

Oleh : Jul Fahmi Salim


Asslm wr wb.. .
Di jumat pagi ini, postingan kali bukan masalah regres-regresan data, tapi ini hanya cerita pulang kampung
Heheheh...



Hemmmm..... Kampungku, sejuuuuk dan asriiii.hihihhi

Untuk menuju ke kampung tercinta, ada 2 jalur yang akan dilalui. Pertama via medan (banda aceh, sigli, bireuen, lhoksmawe, aceh utara, langsa, aceh timur, tamiang, stabat, medan, kab. Karo -aceh tenggara) dan yg kedua yaitu via takengon (B. aceh, sigli, bireuen, bener meriah, takengon, gayo lues - Aceh Tenggara).. Kedua jalur ini dihadapkan pada jalan yang pada daerah tertentu sama-sama rusak dan bisa dikatakan merupakan "perbaikan abadi".hahahahh


Orang- orang tinggal di daerah kutacane pasti sudah tau apa yang saya maksudkan.  Setiap mlewati jalan tersebut selalu saja ada perbaikan... Ibaratnya  1000 m bagus, 100an mtr bermasalah(mulai dri rusak biasa, rusak sedang, bahkan rusak berrat, kadang2 ada sbagian yg hampir ilang jalannya.hahaha). Penyebabnya macam2, mulai dri hujan, longsor, mobil yg melintas melebihi tonase nya dll. Yang tidak kalah penting adalah kurangnya kesadaran masyarkat sekitar yang todak terlalu perduli dlm menjaga sarana yang ada. Intinya memang kembali kepada diri kita masing2 ..yah gitu-gitu aja sampe di kutacane... Ternyata fenomena yang saya alami dari keciiil (khusus via medan, via takengon baru skali lewat dr stu.heheh)   itu masi saja "bertahan" sampai sekarang..hihihi.. Terkadang muncul sikap pesimis dari dlm pikiran "apa mungkin suatu saat perbaikan abadi ini bisa berakhir???" . ntah lah, kita lihat saja nanti apakah ada pemerintah, kab/kota provinsi yang mampu membuat kebijakan yang mampu mematahkan "rekor" perbaikan abadi tersebut...

Bagaimana pun ini hanya unek2 saya sebagai warga yang tak tau mau disampaikan kemana...heehee...
dan ketika samapai di kampung tercinta, maka rasa lelah perjalanan 20an jam itu pun akan sirna tak kala menghiruuup segarnya udara di kampung halaman ku.....

Fajar pagii yang belum begitu kelihatan...


Baru terbit dari ufuk Timur

Hamparan Sawah

Masiiii hijauuuu....

Salah satu sudut dari kebun








Berebut Makanan

kueeekkkk...kueeekkk..

Rempah-rempah di Pematang sawah




Sungai yg masiih asli, enak buat beguling-guling sambil nyelam, we call it "Lawe Harum..."



Terimakasih sudah berkunjung..
:-)

Rabu, 11 Juni 2014

Dana Otsus vs PAD

Oleh Rustam Effendi

TULISAN Bulman Satar dan Asrizal Luthfi tentang persoalan Dana Otsus (Otonomi Khusus) Aceh di harian ini beberapa hari lalu (12/2/2013) menarik disimak. Di harian ini pula sebelumnya saya pernah menguraikan persoalan krusial ini (lihat; Serambi, 11/9/2012). 

Benar memang, dominasi kontribusi Dana Otonomi Khusus (Otsus) dalam struktur penerimaan Pemerintah Aceh masih begitu menonjol, yang hingga posisi 2010 lalu, kontribusinya tidak kurang dari 55,25%. Malah, jika penerimaan Dana Otsus digabung dengan sumber penerimaan lainnya dari pemerintah pusat, yakni dana transfer (dana perimbangan) dan lain-lain pendapatan yang sah, kontribusinya mencapai 88,56% (2010). Dengan gambaran ini, berarti penerimaan dari sumber daerah sendiri, seperti pendapatan asli daerah (PAD) hanya menyumbang sekitar 11,44% saja. 

 Belum khawatir
Sejauh ini Pemerintah Aceh belum terlalu khawatir mengenai masalah ini, apalagi mengingat potensi penerimaan dari sumber Dana Otsus masih amat menjanjikan. Setidaknya, untuk periode Tahun 2014-2022 Aceh masih menerima Dana Otsus sebesar 2% dari dana alokasi umum (DAU), dan periode 2023-2027 sebesar 1% dari DAU. 

Pada 2013 ini, seperti diberitakan Serambi, Aceh menerima Dana Otsus sebanyak Rp 6,6 triliun. Jumlah ini sedikit berada di atas prediksi penulis sebelumnya (sekitar Rp 5,9 triliun). Jika dihitung sejak tahun pertama (2008) Aceh dikucuri Dana Otsus, yang diterima Aceh pada 2013 ini hampir dua kali lipat dari tahun pertama. 

Tahun pertama (2008), Aceh hanya menerima Dana Otsus Rp 3,59 triliun, lalu naik sedikit menjadi Rp 3,73 triliun (2009), berikutnya bertambah jadi Rp 3,85 triliun (2010), kemudian Rp 4,51 triliun (2011), dan Rp 5,40 triliun (2012). Dengan deskripsi data ini, Dana Otsus yang diterima selama 6 tahun (2008-2013) meningkat rata-rata sebesar 10,68% per tahunnya. 

Dengan persentase kenaikan rata-rata terkini (sebesar 10,68% per tahun), menurut perkiraan penulis, pada 2014 mendatang Pemerintah Aceh akan menerima Dana Otsus sedikitnya Rp 7,30 triliun, dan 2017 berada pada kisaran angka Rp 9,90 triliun-Rp 10,0 triliun, dengan asumsi bahwa jumlah DAU juga terus meningkat setiap tahunnya.

Kenaikan penerimaan Dana Otsus ini juga berimplikasi pada besaran belanja Pemerintah Aceh. Pada 2013 ini, misalnya, dana yang digelontorkan dalam RAPBA mencatat angka tertinggi dalam sejarah pembelanjaan Aceh. Tahun ini Pemerintah Aceh mengalokasikan dana belanja sedikitnya Rp 11,785 triliun, atau hampir tiga kali lipat dibanding belanja enam tahun lalu (2007) yang hanya Rp 4,047 triliun. 

Meningkatnya jumlah Dana Otsus yang diterima Pemerintah Aceh setiap tahunnya belum diimbangi dengan kemampuan keuangan dari sumber sendiri. Tahun 2013, jumlah PAD Aceh ditargetkan hanya Rp 804,284 miliar, atau persis sama dengan tahun sebelumnya (2012). Berarti dalam dua tahun ini jumlahnya tidak mengalami kenaikan. Tahun 2011 jumlah PAD Aceh Rp 797,29 miliar, lalu Tahun 2010 Rp 796,95 miliar, atau sedikit lebih tinggi dibanding 2009 (Rp 735,21 miliar), sementara 2008 jumlahnya Rp 716,29 miliar. Berarti jumlah PAD Aceh selama lima tahun terakhir (2008-2012) hanya tumbuh rata-rata  2,34% per tahunnya (di bawah dua digit).

Kontribusinya pun terlihat tidak menampakkan kemajuan yang membaik dari tahun ke tahun. Sumbangan PAD terhadap total pendapatan Aceh pada 2010 turun menjadi 11,44%, jauh di bawah kontribusi 2007, yang mencapai 19,50%. Andai data yang dikutip Luthfi benar, kontribusi PAD pada 2011 malah telah turun jadi 7,0%.

 Strategi antisipasi 
Kucuran Dana Otsus yang terus meningkat setiap tahunnya sesuatu yang patut disyukuri. Namun, harus diingat bahwa berkah itu ada limitasi waktu. Pemerintah Aceh harus menyiapkan formulasi kebijakan atau langkah-langkah antisipatif yang taktis-strategis guna menghindari kondisi terburuk pascaberakhirnya alokasi Dana Otsus nanti. Seperti pernah saya sarankan di harian ini, setidaknya ada sejumlah langkah penting yang harus dijadikan fokus oleh Pemerintah Aceh. 

Langkah awal dan relatif mudah adalah menggenjot penerimaan  dari pajak daerah. Yang paling berpeluang adalah mengoptimalkan pemungutan pajak dari pos penerimaan pajak kenderaan bermotor (PKB) dan bea balik nama-kendaraan bermotor (BBN-KB). Pemetaan potensi riil obyek pajaknya harus dilakukan secermat mungkin, diikuti dengan rancangan formula dan tindakan nyata di lapangan secara komprehensif bersama-sama dengan instansi terkait. 

Penguatan kapasitas badan usaha milik daerah juga harus segera diupayakan secara konkrit. Strateginya tidak terlalu sukar diterapkan jika memang benar-benar ada kemauan dari Pemerintah Aceh. Lakukan revitalisasi badan usaha milik daerah yang ada sesegera mungkin. Bentuk entitas baru, misalnya, sebuah holding company (perusahaan induk), lalu jabarkan operasionalisasinya ke dalam bentuk anak-anak perusahaan. Anak-anak perusahaan ini dibentuk sesuai dengan kekayaan potensi sumberdaya alam Aceh. Berikan peluang kepada badan-badan usaha ini mengelola usaha-usaha di bidang ekonomi; Apakah itu dalam usaha pertanian (pangan), perkebunan, perikanan, pertambangan, termasuk juga bidang infrastruktur dan jasa. Perannya persis seperti Badan Usaha Milik Negera (BUMN) pada level nasional. Pilih orang-orang yang profesional sebagai pengelolanya. Hasil dari setiap aktivitas usahanya harus disisihkan sebagai penerimaan daerah (PAD).  

Sumber daya aparatur pemerintah yang mengelola penerimaan daerah (SKPA teknis/terkait) harus ditingkatkan etos kerja dan komitmen moralnya. Target PAD 2013 sebesar Rp 804,284 miliar (sama dengan 2012 lalu) mencerminkan masih kurangnya etos kerja dan komitmen pengelola keuangan daerah, terutama dalam memperkuat kapasitas fiskal daerah. Seharusnya, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Aceh sebesar 6,0%, setidaknya target nilai PAD 2013 adalah Rp 852,541 miliar. Atau, jika berpijak pada angka kenaikan rata-rata PAD 2,34% per tahunnya (selama 2008-2012), semestinya target jumlah PAD 2013 ini sedikitnya Rp 823,104 miliar (bukan Rp 804.284 miliar).

Sembari melakukan penguatan kapasitas dari sumber-sumber keuangan sendiri, Pemerintah Aceh juga harus melakukan rasionalisasi program/proyek secara tepat dan objektif. Idealnya, program/proyek-kegiatan yang benar-benar bermanfaat dan dapat memperbaiki kesejahteraan rakyat harus didahulukan. Kebijakan anggaran (dana) belanja daerah harusnya tetap berpijak pada prinsip efisiensi, tidak boros, dan menghasilkan keluaran yang bernilai.

 Nilai tambah
Alokasi belanja juga harus diarahkan utamanya untuk investasi fisik guna memperkuat fondasi ekonomi Aceh ke depan. Mengapa demikian, karena dengan cara inilah penciptaan nilai tambah lebih optimal dan penyediaan lapangan kerja bagi para penganggur dan akselerasi pertumbuhan ekonomi, akan dapat diwujudkan. Seperti pernah saya tulis di harian ini (Serambi, 5/6/2012), dengan angka ICOR Aceh sebesar 4,64 (2010), Aceh butuh investasi fisik sedikitnya Rp 8,6-Rp 9,7 triliun per tahun agar ekonominya bisa tumbuh 6,0%. Kebutuhan investasi fisiknya bisa lebih, bila ekonominya ingin tumbuh di atas 6,0% per tahun.

Pemanfaatan dana Silpa untuk memperbesar anggaran belanja memang dibenarkan dan tidak salah. Namun, injeksi modal itu sebaiknya bukan untuk hal-hal yang tidak produktif (konsumtif), melainkan untuk kepentingan penguatan struktur ekonomi dan peningkatan kapasitas fiskal Aceh ke depan. Mudah-mudahan Pemerintah Aceh mau menaruh peduli tentang persoalan krusial ini. Wallahu’alam bissawab.   

* Rustam Effendi, Pengamat Ekonomi Aceh, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: rust_effendi@yahoo.com

sumber: klik disni