Rabu, 26 Desember 2012

Analisis Cadangan Devisa Indonesia

Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang, dimana negara Indonesia banyak melakukan pembangunan di segala bidang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Perkembangan perekonomian Indonesia dewasa ini menunjukkan semakin terintegritasnya dengan perekonomian dunia, sehingga mengakibatkan peningkatan arus perdagangan barang maupun jasa dan arus lalu lintas modal antar negara.
Peningkatan arus perdagangan barang maupun jasa mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Pengembangan ekspor non migas dalam jangka pendek dapat dijadikan andalan dalam pemulihan ekonomi, sementara dalam jangka panjang dapat terus meningkatkan perekonomian nasional sekaligus cadangan devisa.
Cadangan devisa merupakan salah satu indikator yang sangat penting untuk menunjukkan kuat atau lemahnya fundamental perekonomian suatu Negara. Masalah cadangan devisa merupakan masalah yang sangat penting, karena cadangan devisa suatu negara dapat menopang kestabilan ekonomi nasional.
Cadangan devisa tentunya menjadi suatu indikator yang sangat penting juga untuk melihat sejauh mana suatu negara mampu melakukan perdagangan luar negeri negara tersebut. Berbicara mengenai perdagangan luar negeri, hal ini juga tidak lekang dari neraca pembayaran yang merupakan alat untuk melihat posisi cadangan devisa Indonesia, apakah mengalami surplus atau kah mengalami defisit. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) merupakan pencatatan atas transaksi ekonomi yang terjadi antara penduduk dengan bukan penduduk Indonesia pada suatu periode tertentu.
Sedangkan surplus atau defisitnya neraca pembayaran itu sendiri terlihat dari tingkat ekspor dan impor negara tersebut, dan faktor-faktor lain seperti utang luar negeri dan modal asing. Dimana apabila tingkat ekspor negara tersebut lebih tinggi dari tingkat impor negara tersebut maka neraca pembayaran negara tersebut dapat dikatakan mengalami surplus, sebaliknya jika tingkat impor negara tersebut melebihi jumlah ekspor maka negara tersebut mengalami defisit pada neraca pembayaran.
Ketersediaan cadangan devisa yang sangat sedikit menyebabkan Indonesia tidak mampu melakukan pembayaran internasional dan stabilisasi nilai tukar. Akibatnya, terjadi defisit neraca pembayaran dan anjloknya nilai tukar rupiah. Untuk menanggulangi defisit neraca pembayaran, Indonesia memutuskan meminta bantuan pinjaman kepada International Monetary Fund (IMF). Pinjaman ini diberikan dalam bentuk balance of payments supports atau pinjaman yang dipergunakan untuk memperkuat cadangan devisa suatu negara guna menjaga kepercayaan terhadap kemampuan negara dalam melakukan transaksi atau pembayaran internasional termasuk untuk melakukan impor. Sebagian pinjaman luar negeri digunakan untuk menutup defisit transaksi berjalan dan membayar angsuran pokok utang luar negeri (Tambunan, 2000:152-153).
Adanya keterbatasan dalam penguasaaan teknologi, membuat proses pertumbuhan ekonomi Indonesia membutuhkan barang modal dan bahan baku yang harus diimpor. Bila ketersediaan devisa yang ada rendah maka impor tidak dapat memenuhi kebutuhan yang ada di Indonesia karena memiliki kebutuhan impor yang cukup besar, sehingga untuk memenuhi kebutuhan impor yang tinggi maka diperlukan cadangan yang lebih besar.
Cadangan devisa Indonesia cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Untuk  lebih jelasnya, dapat diperhatikan tabel berikut :
Tabel 1.1
Perkembangan Cadangan Devisa Indonesia, 2004 – 2011
No.
Tahun
Cadangan Devisa (US$ juta)
Pertumbuhan (%)
1
2004
36.320
-
2
2005
34.724
-4,39
3
2006
42.586
22,64
4
2007
56.920
33,66
5
2008
51.639
-9,28
6
2009
66.105
28,01
7
2010
96.207
45,54
8
2011
110.123
14,46
Sumber : Bank Indonesia, 2011 (diolah)
                                                                                               
              Tabel 1.1 menunjukkan perkembangan cadangan devisa Indonesia dari tahun 2002 sampai 2011. Selama beberapa tahun ini cadangan devisa Indonesia cenderung berfluktuatif. Pada tahun 2005 cadangan devisa Indonesia mengalami pertumbuhan yang negatif yaitu sebesar minus 4,39 persen atau berjumlah US$ 34.734 juta. Ini disebabkan karena faktor tingginya harga minya dunia yang sempat menembus angka US$ 68/barel sehingga berdampak terhadap membengkaknya pengeluaran untuk impor minyak. Sehingga kebutuhan devisa untuk membayar utang luar negeri juga cukup besar.
              Peningkatan cadangan devisa terbesar terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar US$ 96.207 juta dengan pertumbuhan 45,54 persen. Sementara penurunan cadangan devisa terbesar terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar US$ 51.639 juta dengan pertumbuhan minus 9,28 persen. Penurunan ini dipicu oleh adanya krisis keuangan global yang melanda mitra dagang Indonesia.
Sumber : Proposal Analisis Cadangan devisa Kelompok V
1.     Amy Hanani Amran       : 0901101010003
2.     Nazlia Wibowo              : 0901101010002
3.     Berry Huzera Zakaria   : 0901101010021
4.     Rio Malaon Nasution    : 0901101010044
Iqbal Abdul Razaq              : 0901101010094

Tidak ada komentar: