Selasa, 18 September 2012

GLOBALISASI DAN “KEAJAIBAN EKONOMI” ASIA



Globalisasi  diartikan berbeda-beda 0leh banyak orang ,Globalisasi adalah perluasan kegiatan ekonomi melintasi batas-batas politik nasional dan regional dalam bentuk peningkatan gerakan barang dan jas termasuk buruh (tenaga kerja), modal, teknologi, dan informasi melalui perdagangan.
Globalisasi ekonomi merupakan gerakan yang dating dari gerakan Negara-negara industry maju dengan system kapitelisme yang mulai jenuh didalam batas-batas Negara mereka, sehingga harus bergerak keluar mencari lebensraum yang lebih luas. Maka batas-batas Negara lain mereka terjang (borderless world) demi “keleluasaan” modal global ini untuk beroperasi. Inilah paham “fundamentalisme pasar bebas”.
Jelaskan bahwa globalisasi ekonomi yangWTO, memang akan terbukti lebih menguntungkan Negara-negara kaya yang industrinya sudah amat maju yang membutuhkan pasar dunia yang lebih luas lagi, ketimbang bagi Negara-negara miskin yang tertinggal.
Kini tidak hanya perekonomian Indonesia sudah merasakan dampak negative globalisasi ekonomi, tetapi sudah mengalami kirsis akibat “badai ekonomi” yang menyerang. Meskipun banyak yang menerangkan bahwa krisis ekonomi kita lebih disebabkan “KKN” yang merajalela, namun perlu diteliti jangan-jangan krisis ini lebih disebabkan ketidak berdayaan system ekonomi yang selama ini tidak kita dukung dengan “ideology bangsa” yang mantap dan kukuh yaitu pancasila.
Negara-negara Asia dalam kaitannya dengan krisis ekonomi biasanya dibagi 2 yaitu yang terkena krisis secara hebat dan amat menyakitkan (Thailand, Korea selatan, Indonesia, Malaysia), dan yang” biasa-biasa” saja yaitu cina, Vietnam, Taiwan, Hongkok. Jepang tidak dimasukkan dalam keduanya karena justru dianggap sebangai salah satu Negara pemasok modal jangka pendek yang terlalu royal (generous) yang menyebabkan Negara-negara yang disebutkan di atas “over borrowing”. Filipina juga hanya sedikit “tergores” krisis karena sejak awal tidak ikut dalam klab “Asian Miracle”. Artinya Negara-negara Asia yang terkena krisis adalah Negara-negara yang telah tumbuh ekonominya secara “berlebihan” tanpa pernah menghitung biaya yang harus dibayarnya (growth at any price).
Globalisasi tidak pernah di prakarsai oleh Negara-negara berkembang yang miskin, tetapi oleh para pemodal besar (capitalist) yang memerlukan ekspansi pasar atas barang-barang yang dinegeri asalnya semakin sumpek (jenuh).
Dari data-data yang sudah ada kini orang menyimpulkan bahwa jepang memang dianggap sebangai “model pembangunan yang sukses”, yang patut ditiru, dan sudah benar-benar dijadikan “panutan” oleh banyak Negara Asia Timur dan Asia Tenggara, tetapi sekaligus dianggap sebangai “biang keladi” krisis ekonomi Asia.
Globalisasi adalah perluasan perdagangan dan investasi yang dari asal katanya saja jelas prakarsanya dating tidak dari Negara-negara terbelakang yang ingin maju, tetapi Negara-negara industry maju  yang ingin kelluar dari batas-batas Negara asalnya karena pasar negaranya  cenderung atau bahkan sudah mencapai kejenuhan.
Praktek  proyek-proyek pembangunan yang dibantu Bank Dunia  di Negara-negara berkembang  masih lebih banyak diarahkan pada proyek-proyek ekonomi yang “layak”, yang menjamin kembalinya dana yang ditahan. Sebaliknya proyek-proyek “anti-kemiskinan” yang lebih bersifat proyek-proyek social sulit bersaing dalam pembiayaannya. Namun mengendornya kmonflik ideology global sejak perestroika dan glastnost telah sangat meningkatkan perhatiaan internasional terhadap upaya-upaya peningkatan taraf hidup dan pembangunan social.
Dalam upaya penanganan krisis ekonomi inilah Bank Dunia  dan IMF “bekerja bersama” meskipun kadang-kadang rekomendasinya bias bertentang satu sama lain. Pemulihan ekonomi oleh IMF misalnya yang “resep baku”-nya adalah antara lain penyehatan keuangan dengan cara menaikkan suku bunga bank, padahal resep seperti inilah yang langsung menelikung sector rill.
Ada tiga peristiwa besar yang patut dicatat dalam sejarah yaitu pembangunan ekonomi pasca perabf dunia I, pembangunan ekonomi pasca perang dunia ke II, dan kebangkitan ekonomi Asia Timur dan Asia Tenggara. Yang perlu dicatat, para penulis “barat” selalu kagum secara berlebihan pada angka pertumbuhan ekonomi sebangai satu-satunya indicator kemajuan, dan sebangai pembuka cerita keajaiban Asia adalah selalu kasus korea selatan dan Taiwan.
Kini setelah krisis ekonomi memporak-porandakan ekonomi Asia muncul lagi wartawan yang sama, the Australian. Seperti halnya pakar-pakar lain, setelah krisis terjadi mereka menyatakan bahwa keajaiban  Asia sebenarnya tidak pernah ada, hanya mitos. Yang ada adalah kerja keras. Krisis ekonomi Asia menandai berakhirnya sebuah mitos bahwa ada cara atau “model Asia” dalam pembangunan ekonomi. Yang benar adalah memang ada “jalan lain” selain cara-cara barat model neokalasik. Tetapi tidak benar kalua jalan itu adalah model jepang. Model tersebut hanya berlkau di Negara masing-masing.




SISTEM EKONOMI TRANSISI ATAU REFORMASI  SISTEM EKONOMI
Terbit satu buku “laporan penelitian” bank dunia bagi mereka yang waspada merupakan “perangkap” berbangai keterlanjuran yang kemudiankita perbuat.pernyataan keras ini rupanya tidak kita perhatikan, karena pada tahun yang sama bank dunia mengganggap perekonomian Indonesia merupakan  salah satu dari “East Asian Miracle” yang diberi defenisi sebangai kombinasi dari “rapid, sustainable growth with highly equal income distribution”.
Juga tidak cukup meyakinkan “pembenaran” tentang tidak adanya kesenjangan  dalam pembangunan melalui tanggapan presiden bahwa demokrasi ekonomi “telah diperhatikan” oleh ISEI. Prestasi Indonesia yang dianggap menjadi “kunci keajaiban” menyangkut komitmen untuk mengatasi inflasi, mempertahankan anggaran berimbang, dan komitmen lain pada keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Mungkin benar yang dianggap harimau adalah konglomerat yang pernah secara keliru dijadikan andalan ekonomi nasional, tetapi ternyata kropos, sehingga rontok karena serangan badai krisis ekonomi Asia. Dan benar Indonesia tidak akan menghidupkan kembali konglomerat (harimau) lagi di masa datang.

TANTANGAN DAN TUNTUTAN PENERAPAN MANAJEMEN MODERN DALAM ERA GLOBALISASI PERDAGANGAN BEBAS AFTA 2003 DAN APEC 2020
AFTA dan APEC yang memiliki ciri-ciri sebangai berikut:
1.      Perubahan yang begitu cepat sebangai dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Sedemikian cepatnya perubahan sehingga “yang pasti pada saat ini adalah ketidakpastian”.
2.      Selera dan tuntutan pasar yang begitu cepat berubah dan kondisi pasar dengan tingkat persaingan yang makin ragam.
3.      Makin tingginya tuntutan manusia modal sebagai unggulan daya saing.
4.      Komoditas andalan berubah dari produk barang, jasa, modal pada hak cipta yang berdaya saing tinggi bukan lagi didasarkan pada unggulan komporatif.
Empat kondisi era globalisasi tersebut membutuhkan management leadership yang berubah, tidak cukup hanya bagaimana me-manage individu tetapi lebih di tekankan pada bagaimana me-manage masa depan yang penuh dengan ketidakpastian melalui total Quqlity management.
Untuk menghindari dari merger atau bangkrut, maka diperlukan kepemimpinan usaha(bisiness leadership) yang mampu mengubah sepuluh tantangan  atau the challenge of driving forces sebangai berikut, menjadi peluang:
1.      Speed (kecepatan) : kecepatan pengambilan keputusan dalam kondisi perubahan dampak kemajuan IPTEK dan tuntutan pasar.
2.      Convince (menyakinkan) : ciptakanlah produk yang menyakinkan dan memmuaskan pelanggan.
3.      Age waves (kelompok usia) : untuk siapa/ kelompok mana produk akan dijual.
4.      Choise (pilihan) : dari alternative secara cepat.
5.      Lifestyle (gaya hidup), consumption pattern (pola konsumsi) perlu diperhatikan, semakin tinggi pendapatan masyarakat semakin tinggi selera konsumsinya.
6.      Pemotongan harga – memosisikan bisnis anda dalam era kompetisi harga
7.      Nilai tambah menciptakan alternative bagi persaingan harga
8.      Layanan pelanggan-bagaimana membangun keunggulan kompetitif melalui pegawai anda.
a.      Mengatasi keunggulan harga competitor
b.      Biarkan perusahan kecil mengambil satu yang besar dan menang
c.       Membangun loyalitas konsumen yang bertahan selama bertahun-tahun
9.      Bisnis harus dilandasi dengan pengembangan IPTEK,R, and D (LITBANG), dan HRD.
10.  QUALITY’- cashing in on custumer satisfaction.
a.      kualitas merupakan satu-satunya perlindungan paten yang kita miliki
b.      kami telah saksikan apa yang dapat dilakukan lebih baik oleh kompetisi yang lebih baik dibandingkan anda.
c.       Kualitas adalah kepuasan konsumen
d.      Kualitas adalah apa yang ada dalam kepala konsumen tentang kualitas

Deming menyebutkan 14 butir yang diperlukan sebagai langkah yang perlu dikuasai dan dilakukan dalam kepemimpinaan bisnis menurut gaya manajemen total quality management sebagai berikut:
1.      Menciptakan konstanitas tujuan yang mengarah pada peningkatan produk dan layanan
2.      Mengadopsi filosofi baru bahwa kita berada dalam era baru ekonomi
3.      Menghhentikan keterngantungan kepada inspeksi untuk mencapai kualitas
4.      Mengakhiri praktik penghargaan bisnis berdasarkan harga saja
5.      Meningkatkan konstanitas dan kesinambungan system produksi dan layanan
6.      Melembakkan pelatihan yang berkaitan dengan pekerjaan
7.      Mengajarkan dan melembakkan kepemimpinan
8.      Menghilangkan ketakutan, menciptakan kepercayaan dan iklim untuk inovasi, sehingga setiap orang dapat bekerja secara efektif untuk perusahaan
9.      Optimis dengan tujuan dan sasaran perusahaan
10.  Menghilangkan desakan , slogan, san target bagi pekerja yang menuntut kesempurnaan dan level produktivitas yang baru
11.  Menghilangkan standar kerja pada lantai produksi, menghilangkan MB, manajemen dengan angka dan tujuan numeric
12.  Menghilangkan hambatan yang menghalangi seseorang bangga sebangai pekerja
13.  Mendorong pendidikan dan peningkatan diri bagi semua orang
14.  Mengambil tindakan untuk menyelesaikan  transformasi.

Kreativitas adalah kemampuan mewujudkan sesuatu yang baru. Cirri-ciri kepemeimpinan kreatif adalah:
1.    Keterbukaan terhadap pengalaman baru
2.    Observasi yang lengkap
3.    Barang apa,mengapa,
4.    Dapat menerima pendapat lain
5.    Toleransi terhadap perbedaan pendapat
6.    Kebebasan penuh dalam mengambil penilaian secara rasional
7.    membutuhkan dan mengasumsikan otonomi
8.    percaya dengan kemampuan pribadi
9.    tidak menjadi subjek dari standar kelompok dan control

cirri-ciri entreprenurship-entreprensial traits adalah:
1.      berkomitmen penuh
2.      berusaha untuk mencapai tujuan dan tumbuh
3.      berorientasi kepada peluang dan tujuan
4.      mengambil inisiatif dan tanggung jawab sendiri
5.      mencari dan menggunakan umpan balik
6.      mengkalkulasikan pengambilan risikodan pencarian risiko
7.      berkebutuhan rendah terhadap status dan kekuasaan
8.      integritas dan keterandalan
9.      entrepreneurship dapat dikembangkan


MANUSIA MODAL, KREATIF, INOVATIF, EFISIEN DAN EFEKTIF,
PRASYARAT MEMASUKI ERA GLOBALISASI

DIKLAT
SDM
                                                                                                               PERGURUAN TINGGI
                                                                                                               BALAI LATIHAN KERJA
                                                                                                               LAN
  PERUSAHAAN
INDUSTRI
PRODUK
LITBANG
INOVASI
   BPPT                                                             CAPANICITY
  RISTEK                                                           BUILDING                                                    KOMPETEN &
  PERGURUAN TINGGI                                            DAYA SAING                                                KOMPETITIF
NAKER
PROFESIONAL
PASAR
DIN PSR
 

                 KOMPETEN                                                                                                 DALAM DAN LUAR NEGERI
                                                                                                              EXPORT DAN MUTU ISO
KOMPETITIF
                                                    MANUSIA MODAL (HUMAN CAPITAL)


Prasyarat memasuki era globalisasi abad ke-21
§  memiliki keunggulan komparatif
§  memiliki unggulan daya saing

Setiap produk barang dan jasa menciptakan nilai tambah yang tinggi sehingga dapat memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi atau produk domestic bruto,dan dilihat dari sudut tingkat partisifasi angkatan kerja dapat menjaadi sumberutam pendapatan nasional.

1.     2. constraint/ kendala Indonesia memasuki abad ke-21, era globalisasi-perdagangan bebas (kasus: Indonesia)
Adapun kendala yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi era globalisasi abad ke-21 adalah sebangai berikut:
§  masih tingginya angkatan pertumbuhan penduduk sehingga belum mampu menjamin SDM
§  masih rendahnya etos kerja,kurang tekun atau malas, bermental nerabas, konsumptif, kurangproduktif, tidak efisien.
§  Masih rendahnya kreatifitas dan inovasi teknologi
§  Rendahnya tantangan alam
3. the age of discontinuity-Peter Drucker (1986)
§  Bahan baku alam tidak menjadi bagian perkembangan industry
§  Di Negara industry tenaga kerja bukan lagi menjadi bagian dari perkembangan industry
§  Ekonomi dunia makin banyak digerakkan oleh mobilitas modal dari pada mobilitas perdagangan.

4.  tantangan era globalisasi-perdagangan bebas AFTA (2003), APEC (2020) abad                                            ke-21
Era globalisasi abad ke-21 juga memberikan sejumlah tantangan bagi bangsa ini. Di antara tantangan tersebut adalah:
§  Perubahan yang terjadi begitu cepat sebangai dampak dari kemajuan IPTEK.
§  Makin tinggi dan tajamnya persaingan antarbarang, jasa, modal, dan kreativitas.
§  Ungulan daya saing produk ditentukan oleh factor:desain, mutu produk, infut teknologi, nilai tambah, harga, ketepatan waktu penyerahan barang, pelayanan purna jual.







MANUSIA MODAL, KREATIF, INOVATIF DAN EFEKTIF PRASYRAT MEMASUKI ERA GLOBALISASI (KAJIAN EKONOMI SDM)
1.      Prasyarat memasuki era globalisasi abad ke-21
§  Memiliki ungulan komperatif baik dari bahan baku, SDM, IPTEK, ilmu dan teknologi.
§  Upah buruh murah, tidak menjadi unggulan komperatif, jika di lain pihak kualitas SDM rendah
§  Setiap barang atau jasa menciptakan nilai tambah yag tinggi

2.      Constraint/ kendala Indonesia memasuki abad ke-21, era globalisasi – perdagangan bebas
§  Masih rendahnya kreativitas dan inovasi teknologi
§  Rendahnya tantangan alam ,tidak mengenal empat musim, tanah subur, lahan masih luas untuk migrasi penduduk

3.      Tantangan erglobalisasi-perdagangan bebas AFTA (2003), APEC (2020), abad ke-21
§  Dampak kemajuan IPTEK
§  Yang tetap adalah perubahan, yang pasti adalah ketidak pastian
§  Makin tinggi dan tajamnya persaingan antarbarang, jasa, modal dan kreativitas sebagai komoditas pasar global.
§  Unggulan daya saing produk

4.      Era globalisasi- era informasi (IPTEK) abad ke-21
§  Modal dolar telah digeser oleh manusia modal
§  Sumber daya strategis adalah: informasi, pengetahuan, inovasi, dan kreativitas sumber daya manusia
§  Saat ini kita mengalami kemajuan dengan pertumbuhan industry yang pesat

5.      ciri-ciri signifikan globalisasi ekonomi
§  perubahan begitu cepat dampak kemajuan teknologi
§  makin tinggi dan tajamnya persaingan antarbarang, jasa, modal , dan kreatifitas manusia
§  semkin tingginya tuntutan ADM sebagai manusia modal
§  setiap komoditas dituntut memenuhi standar imternasional (ISO)
§  terjadi perubahan paradigma ekonomi
§  unggulan daya saing global, mensyaratkan kualifikasi PRIMA


human development (gustaf ranis dan frances stewart,2001)
§  pembangunan manusia adalah: memungkinkan manusia untuk hidup yang lebih lama. Lebih sehat, dan lebih berkualitas
§  sehat sejak usia dini/ gizi baik dan pendidikan prima merupakan investasi sumber daya manusia yang lebih utama / atau penting dari pada investasi fisik
§  SDM yang sehat, terdidik, dan terlatih sebagai manusisa modal akan memberikan sumbangan terbesar bagi pertumbuhan ekonomi
§  Sebaliknya dampak dari pertumbuhan ekonomi pada kesehatan dan pendidikan adalah: berkembangnya masyarakat untuk hidup sehat, memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan, keahlian, makin luasnya wawasan, bekerja lebih produktif baik secara perorangan maupun kelompok.

Tidak ada komentar: