Senin, 15 Mei 2017

Regresi Model Autoregressive Distributed Lag (ARDL) Dengan Menggunakan EViews 9

Oleh : Mona Zahara

Assalamualaikum wr wb..

Baik lah, kali ini kita mencoba untuk belajar mengenai model regresi ARDL.

Apa itu ARDL ??
ARDL (Autoregressive Distributed Lag) adalah model dinamis dalam ekonometrika.
Jika dalam model OLS biasa, kita hanya bisa melihat jangka panjang, nah dengan menggunakan model ARDL kita dapat melihat pengaruh variabel Y dan X dari waktu ke waktu termasuk pengaruh varibel Y dari masa lampau terhadap nilai Y masa sekarang.

Sesungguhnya model ARDL merupakan gabungan antara model AR (AutoRegressive) dan DL (Distributed Lag)

Model AR adalah model yag menggunakan satu atau lebih data masa lampau dari varabel dependen diantara variabel penjelas (Gujarati & Porter, hal : 269 2013)
Model DL adalah model regresi melibatkan data pada waktu sekarang dan waktu masa lampau (lagged) dari variabel penjelas (Gujarati & Porter, hal : 269, 2013)

Ada beberapa keunggulan model ARDL :

  1. ARDL tidak mementingkan tingkat Stasioner data (jika pada model VAR dan VECM mengharuskan stasioner pada ordo yang sama) meski begitu ARDL tidak bisa digunakan jika data stasioner dalam bentuk 2nd diff / I(2).
  2. ARDL tidak mementingkan bahwa variabel terkontegreasi pada ordo yang sama (Namun harus pada level dan First Difference, tidak boleh berada pada tingkat second diff), 
  3. ARDL tidak mempermasalahkan jumlah sampel / observasi yang sedikit (Prof Inuwa)

Sebenarnya dalam melakukan regresi model ARDL ini, sepengetahuan saya ada 2 jenis, yaitu :

  • Mengikut Cara Sayed Hossain
Sayed merupakan salah satu dosen ekonometrika, dimana ia memiliki web sendiri yang banyak memposting berbagai macam model dengan softwere mulai dari shazam, EViews, SPSS, Stata, R dll


  • Mengikuti Cara Dave Giles
Dave merupakan Profesor di Universitas Victoria Canada bidang ekonometrik, beliau aktif sebagai Kontributor di forum eviews.com. Selain aktif di forum eviews, beliau juga memeiliki web yang berisi berbagai materi ekeonmetrika dan aplikasi menggunakan eviews.

Ada beberapa kelebihan dan kekurangna bagi saya dengan mengikuti cara Sayeed Hossain
Pemilihan lag ARDL dilakukan secara manual (Karena Menggunakan Eviews 8), ini dapat dilihat dari video tutorialnya bahwa untuk menentukan lag berapa yang digunakan ia melakukannya dengan cara meregresi setiap lag, dan melihat salah satu kriteria yang digunakan (AIC, SC, HQ), ia memilih yang terkecil nilai kriterianya. Misalnya menggunakan kriteria AIC, menggunakan lag 7 hasilnya AIC 13,52, Lag 6 = 13,58 , lag 5= 12,76, maka ia akan menggunakan ARDL dengan Lag 2.. Sebagai catatan, melakukan pemilihan lag, dilakukan dengan menguji lag tertinggi, kemudian jumlah semakin kecil. 
(-) Tentu saja dengan menggunakan ini waktu yang digunakan kurang efisien karena melakukan              berulang-ulang. Menurut saya, alasan ia melakukan itu karena pada Eviews 8, belum ada pilihan         model ARDL, sehingga harus melakukan secara manual.
(+) Kita bisa melihat cusum dan cusumq test untuk melihat stabilitas model pada View => Stability           diagnostic => recrusive estimate (ols only)
    Menurut saya, kenapa Sayeed Hossain bisa melihat cusum dan cusumq tes ? karena pilihan metode pada eviews menggunakan "least square"


  • Mengikuti cara yang dilakukan oleh Dave Giles
1. Pemilihan lag dilakukan otomatis (karena sudah menggunakan Eviews 9) (meskipun pada pilihan kotak legacy nya terdapat pilihan (o) automatic dan (o) Fixed) misalnya lag maks 3.
(-) Karena menggunakan penentuan Lag otomatis, kita tidak bisa melihat pengaruh dari urutan lag            seperti yang ada pada cara sayed hossain, jadi misalnya terpilih (2,3,1,) artinya 2 lag (var Y), 3lag      (var X1), 1 lag(var X2) kita hanya bisa melihat pengaruh Y(-1), Y (-2), X1(-1) X1(-2) X1(-3), X2      (-1) terhadap Y. kita tidak dapat melihat pengaruh Y(-3), X2(-2) X2(-3).
     Terlepas dari hal tersebut, pemilihan terbaik sudah dilakukan oleh EViews sendri.  
(-) Percobaan yang saya lakukan tidak menemukan pilihan menu "View => Stability doagnostic =>          recrusive estimate (ols only)", karena mungkin cara itu hanya bisa jika menggunakan metodel              pilihan "Least Square" seperti pada Sayeed Hossain
(+) Kita dapat menentukan lag maksimal masing-masing baik dependen maupun independent.

Berikut langkah-langkah dalam meregresi model ARDL (Sayed Hosssain + Dave Giles)


  • Siapkan data dalam bentuk excel




- Uji Akar Unit (ADF, PP / KPSS)
uji akar unit dilakukan seperti sebelum-sebelumnya dengan menggunakan ADF, PP atau KPSS.
klik variabel => view => unit root test => pada criteria pilih salah satu ADF, PP KPSS => pilih linear dn intercept => ok
lakukan untuk semua variabel. kegunaannya hanya untuk mengecek tingkat stasioneritas data. Memastikan bahawa data yang dalm bentuk level dan first difference

Uji Pada Tingkat Level






 Uji Pada Tingkat First Difference








dari hasil uji di atas dapat dilihat Y : First Diff, X1 : First difference dan X2: First Diff
Tidak ada variabel yang stasioner pada tingkat Second Diff, sehingga model ARDL layak digunakan.

- Estimasi Model ARDL
klik object => new object=> equation => masukan semua variabel yang ingin di regresi=> misalnya Y X1 X2=> pilih jumlah lag yang diinginkan baik dependen maupun regresor (misalnya pilih lag 7)=> pada menu tab option, silahkan memilih salah satu kriteria yang digunakan ( Sayed Hossain mengguankan AIC, sedangkan Dave menggunakan SC) ,kemudian klik ok

untuk melihat persamaan jangka panjang => view =>  coeficient diagnos => cointegration and long run => ok


dari hasil estimasi jangka pendek dapat dilihat bahwa nilai ect / CointEq= -0,3628 dengan prob 0,000, artinya terjadi kointegreasi dalm model tersebut. nilai betha cointEq yang negatif menunjukkan bahwa model akan menuju keseimbangan dengan kecepatan 36,28 persen per bulan.

dari hasil estimasi jangka panjang menunjukkan bahwa X1 berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Y, sedangkan X2 berpengaruh positif dan signifikan terhadap Y dalam janngka panjang.

- Melihat Graph dari lag yang dipilih


kriteria pemilihan lag secaraotomatis telah dilakukan oleh EViews. kriteriadengan nilai AIC terkecilah yang paling baik dari 20 model terbaik yang ditawarkan oleh kriteia AIC.
kriteria yang terpilih adalah ARDL (2,7,4) artinya Y berjumlah 2 lag, X1 berjumlah 7 lag dan X2 berjumlah 4 lag.


- Uji Autokorelasi (Serial LM test) 
(Menurut dave, uji serial korelasi wajib dilakukan dalam model ARDL)
view => residual diagnos => serial LM test



hasil uji autokorelasi tersebut menunjukkan nilai prob chi sq = 0,382 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan error pada model tidak mengalami masalah serial korelasi.

- Uji Heteroskedastisitas
view => residual diagnos => Heteroscedasticity => pilih stau metode glesjer / BG / White dll (Menurut Dave, jika tidak melakukan uji heteros BUKAN merupakan permasalahan yang besar dalam ARDL, namun jika ingin mengujinya juga tidak masalah)

- Uji Normalitas
view => residual diagnos => Normality test (Menurut Dave, pengujian normalitas dalam model ARDL tidak begitu penting, sehingga bisa diabaikan)

- Uji Stabilitas Model
  Cusum  
view => stability diagnos => recrusive estimate (ols only) => ok (cattn : kata “ols only” merupakan keyword yang menyebabkan mengapa pada metode ARDL tidak muncul menu untuk melihat cusum test)


Cusumq 
view => stability diagnos => recrusive estimate (ols only) => ok (cattn : kata “ols only” merupakan keyword yang menyebabkan mengapa pada metode ARDL tidak muncul menu untuk melihat cusum test)


Dari hasil uji CUSUM dan CUSUMQ test, dapat dilihat bahwa model dalam keadaan stabil karena garis cusum sq masih berada di antara garis signifikan 5 persen (merah)
NB Apa yang dilakukan jika model tidak stabil? bermain dengan lag hingga hasilnya stabil (Dave Giles)

- Uji Bound Test (Melihat kointegrasi dalam jangka panjang), mengapa tidak menggunakan johansen saja? karena penggunaan uji johansen untuk kointegrasi hanya boleh dilakukan jika semua variabel stasioner pada tingkat first diff "I(1)" (Dave Giles)
view => coefficient diagnostic => bound test => ok

Nilai F stat berada di atas I(1) bound => 16,52 > 4,14, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian memilki kointgrasi dalam jangka panjang.


Artikel ini sangat jauh dari sempurna, mohon kritik dan masukannya untuk memperbaiki postingan ini..
Terima Kasih

Referensi :
Asteriou, Dimitros dan Hall, Stephen, G. (2007). Applied Econometric : A Modern Approach.                             Revised Edition. Palgrave Macmillan. New York.
Gujarati, D dan Poter, Dawn, C. (2010). Dasar-dasar Ekonometrika, Edisi kelima, Buku 2, Salemba                     Empat. Jakarta
http://www.sayedhossain.com/ardltimeseries.html
http://davegiles.blogspot.co.id/2015/01/ardl-modelling-in-eviews-9.html
http://davegiles.blogspot.co.id/2014/06/some-questions-about-ardl-models.html
http://davegiles.blogspot.co.id/2013/06/ardl-models-part-ii-bounds-tests.html


Jumat, 14 April 2017

Dana Desa, Sebuah Berkah atau Bencana …..!!!!

Oleh : Jul Fahmi Salim

Assalamualaikum wr wb..
Selamat Pagi...

Berkah atau bencana? Mengapa demikian? Ya tentu saja, menjadi berkah jika kita mampu mengelolanya dan memanfaatkan untuk kepentingan khalayak ramai, namun akan menjadi sebuah bencana yang mengerikan jika kita tidak mampu menggunakan dengan baik terlebih jika kita menyelewengkannnya. Bayangkan saja, karena ketidak transparanan dalam pengelolaan dana desa akan mengakibatkan hubungan antar masyarakat tidak akan harmonis, karena adanya kecurigaan akan penggunaan dana desa yang tidak tepat, sehingga samapai kapan pun tidak akan terjadi keharmonisan dalam menjalankan pemerintahan desa. Buktinya sudah banyak kita lihat dari berbagai pemberitaan baik media cetak maupun elektronik banyak kepala desa di berbagai daerah ditangkap karena penyalahgunaan anggaran desa, dan di bui (Baca :Kades Undur divois 2,4 Tahun , Enam Kepala desa menjadi tersangka penyalahagunaan dana desaLurah Garut ditangkap karena korupsi dana desa, dan masih banyak kasus lainnya). Selain merugikan diri sendiri, keluarga dan orang terdekatnya pun tidak terlepas dari permasalahan tersebut.

Cukuplah berbagai berita tersebut membuat kita sadar dan harus hati-hati dalam menggunakan dana desa. sekarang mari kita lihat dana desa ini dari sudut pandang yang lebih positif (sebagai seseorang yang memiliki background Ekonomi Pembangunan saya di ajarkan untuk tetap optimis meski dengan keterbatasan sumber daya) Saya menyakini bahwa Dana Desa merupakan “Trigger” yang sangat sangat penting dalam membangun perekonomian  yang tangguh dan tak mudah goyah oleh krisis yang melanda. Dana desa merupakan suatu “pupuk” yang manjur untuk mewujudkan sistem perekonomian yang berbasiskan kerakyatan dan mulai dari bawah, saya lebih suka mengandaikannya sebagai perekonomian  “Grass Root” atau bottom – up economic, dimana pembangunan ekonomi itu dilakukan dari bawah keatas, dengan kata lainnya perekonomian suatu negara benar-benar ditopang oleh perekonomian desa.  Tahun 2017, anggaran dana yang di dapatkan oleh desa sebsar Rp 720.440.000 (sumber : publikasi djpk kemenkeu), suatu dana yang sangat besar jika kita mampu menggunakannya dengan bijak. Tentu dengan anggaran demikian besar, kita mampu menjalankan perekonomian mandiri, mengingat desa merupakan struktur pemerintahan terkecil dalam suatu negara.

Sudah begitu banyak berita mengenai keberhasilan dana desa dalam membangun desanya, diantaranya :


(Bersambung)